Tampilkan postingan dengan label cerpen remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen remaja. Tampilkan semua postingan

Rabu, April 18, 2012

Bukan Kado Valentine, Kak...

           Suatu hari di tengah hujan yang sangat deras, ada seorang gadis berparas jelita yang tampak sedang berjalan dengan terburu-buru. Tampaknya ia sedang berusaha mengejar sesuatu, sampai-sampai ia tak menyadari bahwa banyak kendaraan yang sedang berlalu-lalang di sekitarnya. Saat ia berusaha untuk menyebrang jalan, ia tidak tahu bahwa ada bus yang sedang melaju cepat. Terdengar suara berisik dari klakson bus itu. Tiba-tiba saja ada yang menarik tangan gadis itu untuk menepi ke pinggir jalan.
            “Zahra! Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu bisa membahayakan nyawamu!”
            “Maaf Kak Fikri, aku tadi hanya ingin mencoba menyelamatkan anak kucing yang berada di tengah jalan itu!” ujar Zahra kepada kakak kelasnya.
            “Benarkah? Sungguh mulia hatimu. Tapi sekarang anak kucing itu sudah pergi untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Sekarang keadaanmu basah kuyup, kamu harus segera pulang!” kata kak Fikri.
            Namun, Zahra hanya bisa diam. Ia tampak seperti orang linglung. Ia bingung akan pulang naik apa. Naik kendaraan umum pun sepertinya sudah tidak bisa karena hari sudah terlalu sore.
            “Aku akan mengantarkanmu pulang. Naiklah ke motorku!” kata Kak Fikri seakan bisa membaca fikiran Zahra.
            “Kak tidak perlu repot-repot! Aku bisa pulang sendiri, kok.” Kata Zahra tak enak hati kepada kak Fikri.
            “kamu mau pulang naik apa? Sudah tidak ada kendaraan umum lagi. Ayo, cepatlah!”
            “Baiklah kak.” Dengan sedikit ragu-ragu, akhirnya Zahra pun membonceng kak Fikri.
            “Terimakasih kak sudah mau repot-repot mengantarkanku pulang. Dan terimakasih juga tadi kakak sudah mau menolongku untuk menepi ke pinggir jalan, kalau seandainya tadi tidak ada kakak, pasti aku sudah tertabrak. Sekali lagi terimakasih, dan maaf aku  sudah merepotkan kakak.” Kata Zahra setulus hati.
            “Tak apa Zahra. Aku senang bisa menolongmu,” kata kak Fikri.
***
            Keesokan harinya di sekolah Zahra masih memikirkan kejadian kemarin sore. Sungguh, Kak Fikri adalah seseorang yang benar-benar baik. Dia tampan, akademisnya tak diragukan lagi, serta dia juga pintar agama. Ia adalah ketua ROHIS (kerohanian Islam) di sekolahnya. Banyak anak perempuan yang naksir sama Kak Fikri, tapi ia tak pernah menanggapi anak-anak perempuan itu karena ia benar-benar sangat menjaga hijab.
            Siang ini Zahra melihat Kak Fikri di mushola. Memang, kelas Zahra berdekatan dengan mushola, kelas X 1, jadi ia bisa melihat siapa saja yang datang ke mushola. Mereka sempat bertemu pandang, tetapi sepertinya Kak Fikri tidak terlalu memikirkannya, atau bahkan sudah melupakan kejadian kemarin sore. Sekali lagi Zahra menjadi tak enak hati, akhirnya Zahra memutuskan untuk membuatkan sesuatu untuk Kak Fikri, sebagai tanda terimakasihnya kemarin sore.
            Setelah berfikir keras, akhirnya Zahra memutuskan untuk membuat sebuah  rajutan untuk kak Fikri.
            “Kira-kira rajutan apa ya yang cocok untuk kak Fikri?” gumam Zahra sambil berjalan menuju gerbang sekolah karena sudah waktunya pulang sekolah.
            “Bagaimana kalau kamu buatkan dia sweater saja?” kata Farra tiba-tiba saja yang membuat Zahra terlonjak kaget.
            “Farraa.. kamu mengagetkanku saja!” kata Zahra.
            “Hayoo.... mau bikin rajutan buat siapa nih?? Cie cie..” goda Farra.
            “Bukan buat siapa-siapa kok!” kata zahra mencoba menutup-nutupi.
            “Hm.. coba aku tebak, pasti kak Fikri yaa??”
            “Ih.. apa-apaan sih..! nggak kok!” elak Zahra tapi malah semakin memperjelas kenyataan.
            “Ngaku aja, Ra. Nggak apa-apa kok! Nggak akan aku bilangin ke dia, santai saja. Mungkin aku juga bisa membantumu?” pinta Farra.
            “Beneran nih kamu mau bantu aku?” tanya Zahra tak percaya.
            “Iya Zahra. Sekarang, apa yang pertama perlu kita lakukan?” tanya Farra dengan semangat 45-nya.
            Oke, sekarang kita pergi ke toko peralatan menjahit. Kita perlu membeli bahan-bahannya terlebih dahulu.” Kata Zahra.
            “Oke, ayo kita berangkat!” teriak Farra.
            Akhirnya mereka sampai ke toko peralatan menjahit. Dengan bersemangat, mereka memilih-milih bahan-bahan yang akan mereka beli. ada hakpen, aneka jenis benang, mulai dari benang wol sampai benang katun, serta pernak-pernik lainnya.
            Akhirnya setelah berpusing-pusing ria di toko itu, mereka mendapatkan yang mereka cari. Segera setelah itu, mereka langsung melesat menuju rumah Zahra.
            “Hmm... akhirnya sampai juga.” kata Farra.
            “Oke, kita langsung bikin hari ini aja yuk? Biar cepat selesai!”
            “Ah.. Zahra, kamu nggak capek, apa? Istirahar aja dulu.” Keluh Farra yang sedang meregangkan tubuhnya di tempat tidur Zahra yang empuk.
            “Kalau begitu, kamu istirahat saja dulu, aku ingin langsung mengerjakan ini.” kata Zahra yang sedang duduk di lantai dekat tempat tidurnya. Ia sudah membongkar isi belanjaannya tadi, sehingga kamarnya kini sudah berantakan penuh dengan benang-benang yang berserakan.
            Akhirnya Zahra tetap mengerjakan rajutan itu sendirian, karena ternyata Farra juga tidak bisa merajut. Alhasil, ia merajut siang dan malam, sampai-sampai matanya benar-benar pegal dan tangannya juga hampir kapalan. Namun, ia tak pernah mengeluh, sekalipun ia hampir putus asa, ia selalu membayangkan betapa senangnya wajah kak Fikri saat menerima pemberiannya nanti.
***
            Hari ke tujuh sejak Zahra mengerjakan rajutan itu, akhirnya hampir selesai juga. hanya tinggal mengeceknya lagi serta membungkusya, maka sweater warna tosca itu siap untuk diberikan kepada kak Fikri.
            “Hm... akhirnya rajutan ini selesai juga. semoga kak Fikri suka dengan sweater hasil rajutanku.” Gumam Zahra sambil memandangi kotak yang terbungkus kertas kado warna senada dengan sweater itu. Karena gembiranya, Zahra sampai-sampai tidak memandangi arahnya berjalan. Dan tiba-tiba “braakk..” Zahra menabrak seseorang. Hampir saja Zahra ingin meneriaki orang yang menabraknya tadi saat kemudian ia tahu siapa yang menabraknya tadi.
            “Zahra? Kamu ini kenapa setiap berjalan sealu tidak pernah berhati-hati?” kata kak Fikri yang saat itu memakai seragam Olahraga. Mungkin ia sedang pelajaran Olahrahga. Ia terlihat sangat keren jika sedang memakai kaos Olahraga.
            “Ah... maafkan aku Kak! Aku memang benar-benar ceroboh!” kata Zahra sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
            “Oke, lain kali jangan diulang lagi ya! Aku benar-benar akan memukulmu jika kamu ulangi untuk yang ketiga kalinya.” Kata Kak Fikri.
            “Ah.. baiklah Kak. Oya Kak! Tunggu sebentar! Aku punya sesuatu untukmu!” kata Zahra.
            “Apa Zahra?” tanya Kak Fikri penasaran.
            “Ini!” kata Zahra sambil mengulurkan kotak kado itu.
            “Ah.. maaf sebelumnya Zahra, sebelumnya terimakasih kamu memberiku ini, dan akan lebih baik jika kamu memberikan ini kepada orang lain. kamu pasti memberiku ini dalam rangka Hari Valentine, kan? Maaf sebelumnya, tapi sebenarnya di dalam umat Islam, kita tidak diperbolehkan merayakan hal-hal semacam ini. itu musyrik namanya. Maaf Zahra. Sebaiknya kau simpan saja kado itu. Aku pergi dulu! Asssalamualaikum!” kata Kak Fikri sembari berlalu pergi menuju teman-temannya yang juga masih mengenakan kaos Olahraga, dan meninggalkan Zahra yang mulai menitikan air mata sendirian di tengah-tengah lapangan basket.
            “Bodoh. Dasar Zahra bodoh! Kenapa aku tak ingat bahwa hari ini adalah Hari Valentine? Pasti Kak Fikri telah salah paham! Ah..! kenapa jadi seperti ini? bukan ini yang aku harapkan!” gerutu Zahra pada dirinya sendiri.
***
Sekarang Zahra sudah kelas XI dan Kak Fikri kelas XII. Hari demi hari berlalu dengan sangat membosankan. Kini Zahra dan Kak Fikri sudah tidak saling sapa lagi. Bahkan mereka sudah seperti orang asing. Bertemu pun jarang. Mungkin karena Kak Fikri ingin berkonsentrasi dengan Ujian Nasional yang tinggal menghitung hari.
Hingga akhirnya, hari pengumuman tiba. Kak Fikri lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Zahra ikut berbahagia atas hal itu. Tetapi, sejak kejadian itu, masih ada hal yang ingin zahra katakan kepada Kak Fikri. Zahra masih ingin meralat semua kesalah pahaman ini.
***
Suatu hari, sepulang dari acara perpisahan sekolah, Kak Fikri sedang membersihkan lokernya. Ia menemukan sebuah kotak terbungkus kertas kado yang sama seperti yang pernah dibawa Zahra. Awalnya Kak Fikri ragu, namun akhirnya ia mengambil kotak tersebut. Saat ia akan mengangkat kotak itu, tiba-tiba saja selembar kertas yang diselipkan di pita kado itu melayang jatuh. Kontan Kak Fikri memungutnya dan kemudian membaca tulisan yang ada di dalamnya.

Semarang,  4 Juni 2011

Untuk Kak Fikri,
Assalamualaikum....
Hai Kak! Selamat ya sudah lulus dengan nilai yang memuaskan. Aku turut bangga padamu. Mm.. sudah lama aku tidak berbicara denganmu. Sejak kejadian itu.
Sebenarnya aku tidak ingin bertele-tele. Aku hanya ingin menjelaskan sesuatu padamu. Saat itu, aku kira Kakak salah paham denganku. Soal kado itu. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk memberi kado Valentine buat Kakak. Bahkan, aku sendiri tidak ingat bahwa hari itu adalah Hari Valentine.
Pasti Kakak bingung kenapa aku memberi kakak kado itu, kan?
Kak, ingat nggak waktu sore hari, ada seorang gadis ceroboh yang rela berhujan-hujanan demi menyelamatkan anak kucing di tengah jalan tanpa memperhatikan padatnya lalu lintas saat itu? Yang ternyata perbuatan gadis itu hanyalah akan membahayakan nyawanya sendiri? Karena itu Kak.
Karena pada saat itu ada seseorang yang menyelamatkanku. Seseorang yang peduli denganku. Tanpa seseorang itu, sekarang pasti aku sudah tidak disini. Dan karena orang itulah aku memberikan ini. kaulah orang itu.  Terimakasih Kak.
Oiya, dan apakah kakak tahu? Aku membuatkan kakak kado ini siang dan malam, sampai sampai mataku terasa pegal, dan tanganku juga hampir kapalan. Ah.. demi kakak, bagiku tak masalah. Sampai jumpa suatu saat nanti, Kak!
Wassalamualaikum!

Salam,
Az-Zahra Nalla Dewi

Selesai membaca surat itu, Kak Fikri hanya bisa terdiam. Ia benar-benar menyesal terhadap kata-katanya waktu itu. Ia merasa sangat bersalah kepada Zahra. Ia sudah mengecewakan Zahra. Ia merasa benar-benar telah mengecewakannya.
Kak Fikri kemudian membuka kotak kado tersebut. Dam mendapati sepuh sweater berwarna tosca di dalamnya. Kak Fikri hanya bisa tersenyum simpul, dan berjanji dalam hati bahwa ia tak akan mengecewakan orang-orang, terutama Zahra.
***
Sepuluh tahun kemudian,
Zahra sedang duduk-duduk di taman kota untuk mencari inspirasi. Setelah lulus SMA, Zahra memutuskan untuk menjadi seorang novelis. Cita-citanya sejak dulu.
Saat Zahra memandang sekitar, tampak di kejauhan, Zahra seperti melihat sesosok yang dikenalnya. Orang itu sedang memotret sesuatu. Orang itu masih memiliki raut muka yang sama. Wajah tampan, tubuh tegap, dan sebuah sweater. Ya! Tidak salah lagi itu adalah sweater yang pernah Zahra berikan kepada Kak Fikri.
“Benarkah itu Kak Fikri?” gumam Zahra tak percaya.
Kemudian laki-laki itu datang menghampiri Zahra.
“Bolehkah saya duduk disini?” tanya orang itu sambil menunjuk bangku kosong yang berada di sebelah Zahra.
“Ss..si.. silakan.” Jawab Zahra ragu-ragu.
“Apa kabar, Zahra? Lama tidak berjumpa ya?” kata Kak Fikri.
“Mm... ya. Kakak masih tidak berubah.” Kata Zahra
“Kau juga. tak banyak berubah. Dan, sweater ini? apa kau masih ingat?”
“Tentu saja! Aku membuatnya berhari-hari sampai pegal-pegal semua badanku! Aku tak menyangka Kakak benar-benar akan memakainya. Mm... jadi, kakak sudah membaca suratku waktu itu?”
“Ya Zahra. Aku akhirnya tahu yang sebenarnya. Maaf aku telah mengecewakanmu waktu itu.”
“Tidak apa-apa Kak, itu sudah masa lalu.”
 “Aku sungguh-sungguh menyesal. Sejak saat itu, aku berjanji tidak akan mengecewakan siapapun, termasuk kamu.”
“Terimakasih, Kak. Aku benar-benar menyayangimu. Lebih dari sekedar kakak-adik.”
“Aku pun juga, Zahra. Maka, aku harap kamu mau menerima ini.” kata Kak Fikri sambil mengulurkan sebuah cincin dari bunga liar yang ia rangkai sendiri.
Zahra menerimanya dengan hati yang bahagia. Sebahagia perasaan Kak Fikri. Dan sebahagia bunga-bunga yang bermekaran di taman itu.



--THE END--


Senin, Desember 20, 2010

Reyna's Story...

Namaku Reyna, awal kisahku ini adalah saat aku kls.6 SD. Saat itu aku sedanng mengikuti lomba mapel yang diadakan oleh sebuah SMP,yang bernama SMP Kusuma Bangsa.
Saat lomba berlangsung aku deg-degan. Apakah bisa masuk 6 besar?? Tiba waktunya pengumuman. Sebelum pengumuman,aku sempat melihat ada seorang anak laki-laki yang bagiku sangat mempesona.Dia sedang mondar-mandir di depan ruang guru. Aku tak tahu dia siapa.Tapi kata Dewi, dia anak salah satu guru di SMP itu.
Kertas pengumuman pun ditempel di kaca jendela ruang TU.Agar semua anak dapat melihat hasilnya. Aku melihat daftar itu mulai dari atas. Dan ternyata aku mendapatkan peringkat 3!!! Wow...betapa senangnya...,apalagi, 3 finalis-nya berhasil disabet SD-ku! SD Nusa Permata. Tetapi sayang, aku satu-satynya anak perempuan dari SD-ku. Ardian dapat peringkat 2 dan Dicky dapat peringkat 6. Nah, dari hasil tersebut,6 besar itu harus mengikuti lomba lagi pada tanggal 22 Januari. Bertepatan dengan HUT SMP itu.
Babak finalpun tiba. Dan ternyata yang mendapatka peringkat 1 kemarin adalah “si Anak Guru” itu. Aku belum tahu namanya, karena saat aku melihat pengumuman tersebut,namanya begitu sulit untuk dibaca.
Kejadian itu takkan pernah aku lupakan selamanya... Wajahnya sangat pekat difikiranku. Kalau tidak salah,ternyata namanya adalah Ray Arya. Aku berharap suatu saat nanti aku dapat bertemu dengannya lagi.
***
Huufh......tak terasa sekarang aku sudah lulus SD. Mm...aku mau melanjutkan di SMP Kusuma Bangsa saja ahh... Kayaknya enakan sekolah di situ. Teman-temanku juga banyak yang sekolah di sana.
Tebak? Di sana aku bertemu siapa coba? Aku bertemu dengan “si Anak Guru” itu lagi! Di tes masuk SMP-nya,dia mendapatkan peringkat 1, dan aku mendapatkan peringkat 2. Kayaknya dia bakalan jadi sainganku dech!
Akhirnya aku masuk di kelas 7a. Aku satu kelas dengan Ray, dan aku duduk satu bangku dengan Nayna. Sedangkan Dewi masuk di kelas 7b bersama Icca. Di sini aku mendapat banyak teman.
Aku melewati hari-hari dengan menyenangkan. Tapi, aku merasakan ada rasa yang berbeda saat melihat Ray. Dia bagaikan matahari yang menyinari hidupku.
Saat ekstra Pramuka,Ray digosipkan ada hubungan dengan Nissa. Hatiku terasa sediih sekali. Apalagi saat dikabarkan,Ray pernah punya pacar yang bernama Mytha. Tapi lama-kelamaan,akhirnya dia tahu perasaanku yang sebenarnya kepadanya. Dia bingung sendiri mau memilih aku atau Nissa. Tapi ia lebih memilih Nissa, meskipun begitu, hubungannya dengan Nissa tak bertahan lama.
***
Suatu hari aku melihat Ray bersama seorang kakak kelasku yang bernama Arsya. Dia salah satu anak yang berprestasi di sekolahku, dan dia adalah seorang mayoret. Ternyata ia telah menjalin hubungan dengan Ray. Aku merasa sangat sangat sediiih. Karena, aku dengan kak Arsya telah berteman baik. Tapi aku akan bertekat untuk menjadi orang yang hebat, karena orang yang hebat adalah orang yang berusaha membahagiakan orang lain di atas penderitaannya sendiri.
Aku bertekat untuk mencari pengganti Ray. Dan saat kami semua sudah naik di kelas 8, ada seorang anak laki-laki yang ternyata sejak kelas 7 sudah suka aku. Dia bernama Candra. Ia mengungkapkan perasaannya kepadaku. Dan,,aku menerimanya.
Hari demi hari ku jalani bersamanya. Namun,aku tak pernah mencintainya. Yang ada dihatiku hanyalah dua orang. Yaitu Ray dan Rama. Rama adalah adik kelasku. Entah mengapa menurutku dua sosok itu sangat berkaitan. Jika aku pernah mengatakan bahwa Ray adalah matahari yang menyiari hidupku, Rama adalah bulan yang menggantikan matahari saat malam tiba. Bagiku mereka adalah sesosok yang sama tapi dalam raga yang berbeda. Tapi hatiku lebih condong ke Ray. Lagipula, Nayna lebih membutuhkan Rama daripada aku.
Hmm . .di sini aku punya tiga sahabat yang sangat baik. Mereka bernama Nayna, Dewi, dan Icca. Kami memberi nama persahabatan kami ini yaitu Iona Best Friend Forever. Kami selalu bersama-sama di manapun berada. Tapi, gara-gara Rama, hubunganku dengan Nayna sempat renggang. Dan gara-gara itu juga, hubungan Nayna dengan Dewi pun juga begitu. Namun kami tetap menjaga persahabatan kami agar tak renggang lagi. Dan kami tetap menjadi sahabat sejati.
***
Hari demi hari telah kami jalani. Tak terasa kami telah naik ke kelas 9. Dan aku masih bersama Candra. Tetapi, kami merasa sudah tidak cocok. Dan akhirnya ia memutuskan hubungan kami ini. Aku merasa  kecewa,tapi apa boleh buat, mungkin ini adalah jalan yang terbaik bagiku dan dia.
Sedangkan Ray masih saja bersama kak Arsya. Meskipun kak Arsya sekarang sudah SMA, tapi persahabatan kami tetap berjalan lewat facebook. Di Facebook,kak Arsya selalu mengeluh tentang masalahnya bersama Ray. Update satusnya selalu tentang Ray, bahwa sekarang hubungannya dengan Ray mulai renggang. Ray tak pernah menelfonya lagi, tak pernah sms, dan sudah jarang ketemuan. Apalagi setelah ia berada di sekolah barunya itu, ia bertemu dengan seseorang yang membuatnya jatuh cinta untuk yang ke dua kalinya. Hubungannya serasa digantungkan oleh Ray.
***
Aku tak tahu apakah Ray tahu aku masih mencintainya sampai sekarang? Dan...aargh..!! Ada kejadian yang sangat membuatku malu. Saat itu Ray sedang bermain-main di dekat tempat dudukku, dan sat itu tasku sedang terbuka. Ia membuka-buka tasku dan menemukan selembar kertas yang berisi harapan-harapanku di saat hari ulang tahunku. Aku lupa bahwa kertas itu masih tersimpan di tasku. Ia pun membacanya, dan akhirnya ia tahu bahwa perasaanku tak berubah dari duluusampai sekarang.
***
Hari itu telah terlupakan. Dan sekarang kami berdua ditambah Reza sedang disibukan dengan latihan-latihan persiapan Lomba Cerdas Cermat yang diadakan di SMP Nusa Bangsa. Tiap pulang sekolah kami selalu mendapat jam tambahan.
Hari yang dinantipun tiba. Kami sudah sampai di SMP Nusa Bangsa, dengan dibimbing pak Huda dan pak Alex,kami disuruh daftar ulang dulu. Hari itu seperti serba kebetulan. Saat daftar ulang,aku bertemu dengan Dicky,temanku waktu di SD,dan sekarang dia bersekolah di situ. Tak kalah menariknya,Ray juga bertemu dengan yang entah aku tak tahu ia bisa kenal anak itu dari mana. Anak itu bernama Ana Fatchia. Mereka berdua seperti sudah akrab sekali. Hem... ingin sekali rasanya jadi Ana. Kalau dilihat dari penampilanya,ia terlihat perfect. Cantik,putih,pinter,pandai bergaul,pokoknya oke dech... Pak Alex yang bapaknya Ray aja juga kenal sama Ana. Katanya Ana itu ikut olympiade matematika and les bahasa inggris juga. Dalam benakku,ingin sekali rasanya aku jadi dia.
Saat lombapun dimulai. Kami duduk bertiga dengan aku ditengahnya. Hmh...rasanya tak ingin waktu ini cepat berlalu.. aku berada tepat disampingnya. Aku dapat memendangi wajahnya yang menawan. Andai aku bisa merubah hatimu menjadi milikku...
Tak terasa pengumuman pun ditempel,dan...hufh,,lagi-lagi kami gagal. Kami mendapatkan peringkat 15. Dan coba tebak? Yang mendapatkan peringkat 1 mana? Yaitu sekolahnya Ana. Waw..aku merasa hari ini seperti serba kebetulan....
Dan saat pulang lomba saat di dalam mobilnya Pak Huda,aku mendengar Ray sedang berbicara di telfon. Sepertinya ia sedang berbicara dengan kak Arsya dech. Tapi....kok bicaranya pake’ kata “putus” segala sich..? Apa mungkin...? ahh...tidak tidak! Aku kok mikir gitu sich?
Hmm...sambil menunggu sampai di sekolah, mendingan nge-net aja. Aku mau membuka facebook ah.. Lho?? Aku melihat update statusnya kak Arsya yang terbaru, dan ternyata tebakanku benar! Inti dari isi tulisannya kak Arsya adalah hubngannya itu telah berakhir. Dan ada pemberitahuan baru bahwa “Funnya Arsya telah melajang.”Aku bingung dengan ekspresiku sendiri. Mau sedih? Atau senang?
Aku senang karena,itu berarti kesempatan bagi ku untuk mendapatkan Ray semakin besar. Tapi,aku sedih dan was-was,karena itu berarti ada orang lain yang punya kesempatan untuk merebut hati Ray. Sebut saja contohnya,Mytha,Nissa,Ana,dan mungkin juga..Naya,ia adalah mayoret penggantinya kak Arsya setelah ia lulus dari SMP. Tapi..semoga kewa-wasanku ini tidak akan berlanjut lebih lama.
Sudah sampai di jln.Wisnuwardhana,dan Pak Alex beserta Ray turun dari mobil. Dan kami yang tersisa melanjutkan perjalanan ke sekolahan. Setelah sampai di sekolahan,aku memutuskan untuk pulang jalan kaki saja.
***
Saat aku sedang enak-enaknya jalan kaki, tiba-tiba ada seorang anak SMP yang naik motor memakai helm putih. Ia datang memghadangku. Dari helmnya, aku sudah tahu bahwa dia Ray. Tapi kenapa dia menghadangku?
“Hei..Reyna! Aku anter, mau nggak?”
“Hah? Beneran nie? Nggak salah?”
“ya udahlah kalau nggak mau..”
“Eee...ya yaa.. mau kok,mau....” dalam benakku,apakah dia sedang kerasukan setan? Whatever lah! Pokoknya up to you. Gak peduli..yang penting kan aku dapat tumpangan gratis! Hehehee....
Akhirnya aku dianterin sama dia. Dan dia mulai bertanya sama aku. Tapi kok pertanyaanya aneh ya? Masa’ dia tanya sama aku apakah aku masih dengan Candra Si Pinokio itu. Ya terus terang aja aku jawab nggak. Kan kenyataannya emang gitu. Terus dia jawab lagi,”aku juga udah enggak..”
“enggak apanya?”
“ya berarti,aku sekarang udah jomblo lagi.”
“aku udah tau....”
“tau darimana?”
“facebook. Kak Arsya udah cerita semunya difacebook,meskipun nggak secara langsung ditujukan ke kamu,tapi jika orang yang bener-bener tau ceritanya,pasti akan ngerti.”
“berarti,sekarang kita sama-sama jomblo donk..?”
“yuppy..!”
“kok gitu doang sich jawabnya?”
“Lha terus aku harus jawab apalagi?”
Tak terasa sudah sampai dirumahku. Dan dia nganter aku nggak cuma sampai depan rumah,tapi sampai halaman..,ada angin apa ya kok dia jadi gini. Eh kok aku malah jadi tegang gini sich? Ehm...tenang-tenang...
“akhirnya sampai juga..,thanks ya Ray,dah anterin aku..” dan aku pun mulai akan melangkah pergi,tapi dengan sigap Ray meraih tanganku.
“eh,tunggu dulu..aku kan tadi belum selesai ngomong.”
“mau ngomong apalagi?”
“er..........,eum.....permintaanmu yang waktu kelas tujuh dulu masih berlaku?”
“permintaan apaan?”
“meminta aku jadi pacarmu..”
“heh...??” dagdigdug duuaaarrr!!! Hatiku benar-benar meledak tak karuan. Mungkunkah ini? Ya Allah....terimakasih do’a-ku selama ini telah Engkau kabulkan.
“heii! So..? gimana?”
Dengan senyuman terbaikku,kuucapkan,”YA!”
“Jadi..,mulai sekarang kita jadian kan....?!”
“yaa........!”
Tak kuduga,dihalaman rumahku..,cinta yang t’lah lama kutunggu,kini datang menghampiriku....membawaku terbang keawang-awang...
“eh ya Ray,tapi bagaimana dengan kak Arsya?”
“udahlah....dia nggak usah kamu pikirin. Toh juga dianya dulu yang mulai.”
“terus,kenapa kamu nggak pilih Naya aja? Atau Nissa? Mytha? Atau bahkan Ana aja? Kenapa harus aku?”
“kamu nggak mau ya?”
“ee...bukannya gitu... aku mau kok. Tapi tolong sebutin alasannya kenapa kamu nggak pilih yang lain-lain?”
“karena Naya terlalu gimana-gimana,and karena Nissaa udah nggak seprinsip ‘ma aku,karena Mytha hanyalah kenangan masalaluku,karena bagiku Ana terlalu agresif.”
“oo...gitu...”
“ya..! udah puas yank?”
“belum...”
“apalagi cih?”
“apa alasanmu pilih aku?”
“hmm.....,pengen tau’?? Rahasia.......”


**THE END**